Jumat, 24 Juni 2011

Teori belajar dan pembelajaran

1.      Koneksionisme
Tokoh paling terkenal dari teori koneksionisme adalah Edward Lee Thorndike. Koneksionisme merupakan teori paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara stimulus-respons. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus -respons sebanyak-banyaknya. Siapa yang menguasai hubungan stimulus-respons sebanyak-banyaknya ialah orang yang pandai atau yang berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respons ini dilakukan melalui ulangan-ulangan (Sukmadinata, 2007: 168).
Secara garis besar, teori koneksionisme Thorndike dapat dijelaskan dengan satu kesimpulan bahwa “belajar” dapat terjadi dengan dibentuknya hubungan, atau ikatan, atau asosiasi, atau koneksi netral yang kuat antara stimulus dan respons. Untuk dapat mencapai hubungan antara stimulus dan respons ini, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat, serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (errors) terlebih dahulu. Berdasarkan hal ini, Thorndike mengutarakan bila bentuk paling dasar dari belajar adalah trial and error learning atau selecting-connecting learning dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu (Roziqin, 2007: 64).
Berkaitan dengan prinsip atau hukum dalam belajar, Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum, yaitu:
1                    law of readness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.
2                    law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan, ulangan.
3                    law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang lebih baik (Sukmadinata, 2007: 169).

2.     Teori Pembiasaan Klasik (Classical Conditioning)
Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936) sebagaimana telah diuraikan di awal. Seperti halnya dengan Thorndike, Pavlov dan Watson yang menjadi tokoh teori ini juga percaya bahwa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu (Sanjaya, 2006: 115).
Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu (Sanjaya, 2006: 116). Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Syah, 1999: 106).
Teori ini disebut classical karena yang mengawali nama teori ini untuk menghargai karya Ivan Pavlov yang paling pertama di bidang conditioning (upaya pembiasaan) serta untuk membedakan dari teori conditioning lainnya (Djaali, 2007: 85).

3.  Teori Pembiasaan Perilaku Respons (Operant Conditioning)

Teori ini dikembangkan oleh Skinner yang juga didasarkan pada teori S-R  dari Thorndike. Skinner juga menggunakan hewan yaitu burung dalam percobaannya. Akan tetapi berbeda dengan Thorndike, Pavlov, dan Watson, Skinner dalam teorinya menyimpulkan bahwa terdapat dua macam respon yang berbeda yaitu respondent response atau reflexive response dan operant response atau  instrumental response (Sanjaya, 2006:116). Kedua respons tersebut secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut ini:
1.    Responde response atau reflexive response adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh teori S-R yaitu respons tertentu yang ditimbulkan oleh situmulus tertentu. Artinya, hubungan antara stimulus dan respons bersifat yang terbatas dan hampir sudah terpola. Oleh sebab itu, respondent response sangat kecil kemungkinannya untuk dimodifikasi.
2.    Operant response atau instrumental respons adalah respons yang timbulnya diikuti oleh munculnya perangsang-perangsang lain atau reinforcing stimulus atau reinforcer. Reinforce ini kemudian akan memperkuat response reflexive yang dilakukan oleh organism. Dengan lain perkataan reinforce menyebabkan terjadinya multiplier effect atau effect rentetan dalam diri seseorang. Karena sifatnya yang demikian itu, maka mungkin saja perilaku dapat dimodifikasi dengan menggunakan operant atau instrumental response.

4.        Teori Gestalt
      Teori gestalt atau teori bentuk yang dikembangkan diantaranya oleh Max Wertheimer seorng psikolog Jerman, Koffaka, dan kohler. Inti dari teori gestalt yang dirangkum dari berbagai sumber  adalah sebagai berikut:
1.      Jika aliran teori behavioristik yang memandang belajar sebagai perilaku mekanistis tanpa adanya peran insight, teori gestalt yang merupakan kelompok aliran kognitif holistic memandang belajar adalah  proses mengembangkan insight atau memahami hubungan antar unsure dalam suatu masalah. Insight yang diperoleh dari pemecahan masalah tertentu satu saat kelak dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam situasi lain.
2.      Masalah yang dihadapi seseorang akan menimbulkan ketidakseimbanagn kognisi dan orang itu akan berusaha memecahkan masalah tersebut guna mencapai kembali keseimbangan kognisi. Dalam konteks ini masalah berfungsi sebagai stimulus untuk menemukan pemecahan masalah. Jadi belajar bukan sekedar menghafal fakta, tetapi memanfaatkan insight untuk memecahkan masalah.
3.      Belajar didasarkan pada pengalaman atau pengorganisasian kembali pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus disempurnakan. Oleh sebab itu pengalaman dapat memberikan arti dalam kehidupan seseorang. Berpegang kepada prinsip ini. Maka salah satu peran guru dala pembelajaran adalah menciptakan tantangan-tantangan agar siswa memperoleh pengalaman baru dan berharga dari proses belajarnya.
4.      Berdasarkan hasil penelitiannya Max Wertheimer merekomendasikan lima hukum yang saling terkait. Ringkasan dari kelima hukum tersebut  adalah sebagai berikut ini.
a.       Hukum Pragmanz: pengamatan terhadap suatuobjek dikaitkan dengan sesuatu yang berarti dilihat dari susunan, bentuk, ukuran, warna, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, buah yang berwarna merah dianggap sudah masak dan manis rasanya, sedangkan buah yang berwarna hijau dianggap mentah dan asam rasanya.
b.      Hukum Kesamaan (Law of similarity): orang cenderung mengelompokkan gejala berdasarkan sesamaannya bukan perbedaannya. Sebagai contoh, orang akan mengelompokan tumbu-tumbuhan pada jenis akarnya, akar tunggang atau akar serabut.
c.       Hukum Keterdekatan ( Law of Proximity): orang cenderung mengelompokkan gejala berdasarkan kedekatannya dari pada kerendahannya. Sebagai contoh, pembentukan gugus sekolah lebih sering didasarkan pada kedekatan jarak antar sekolah bukan sebaliknya.
d.      Hukum Kontinyuasi ( Law of Contination): objek dilihat sebagai totalitas atau keseluruhan bukan bagian perbagian. Implikasi dari hukum ini adalah cara pndang bahwa:
·         Dalam belajar, siswa tidak menangkap bagian-bagian dari gejala tetapi menangkapnya secara keseluruhan karena keseluruhan lebih penting dari bagian-bagiannya. Sebagai contoh, ketika seseorang melihat sebuah rumah, ia melihatnya secara keseluruhan bukan bagian-bagiannya.
·         Anak yang belajar  merupakan keseluruhan dalam arti bahwa pembelajaran yang dilakukan terhadap anak bukan hanya mengembangkan intelektual saja, tetapi mengembangkan keseluruhan kepribadian anak seutuhnya (Whole Child Education)
e.       Hukum Ketertutupan ( Law of Closure): dalam mengamati suatu objek atau gejala, orang cenderung untuk menutupi atau melengkapi bagian-bagian yang kurang agar menjadi utuh. Sebagai contoh dalam pembelajaran, siswa Taman-Kanak juga sangat tertantang untuk menyusun bangunan rumah atau lainnya dengan menggunakan potong-potongan profil kayu atau dikenal dengan istilah Lego-lego.

5.                     Teori Medan
            Teori medan atau  field theory yang diawali perkembangannya oleh Kurt Lewin dapat dijelaskan dalam bentuk rumus berikut ini (Sudjana: 56).
B = f (P, E), dibaca B adalah sebagai fungsi dari P dan E.
Dengan mana:
B adalah behavior atau perilaku sebagai hasil belajar
P adalah person atau indivisdu
E adalah environment atau lingkungan atau medan.

Jadi menurut rumus Lewin hasil belajar ditentukan oleh individu dan lingkungan. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh lingkungan Lewin mengembangkan teknik FFA ( Force Field Analisis) atau analisis kekuatan medan. Dengan teknik FFA ini kekuatan-kekuatan dibedakan atas kekuatan pendorong (D) atau driving force dan kekuatan penghambat (H) atau restaining force. Untuk mencapai kemajuan atau perubahan perilaku ketingkat tertentu yang diinginkan, maka strategi pembelajaran yang harus dilakukan adalah memperkuat medan pendorong dan memperlemah medan penghambat.
Selain strategi diatas, bahasan yang dikemukakan tentang teori medan adalah bahwa medan yang dikembangkan oleh Lewin memiliki kesamaan dengan teori Gestalt yaitu menganggap bahwa belajar adalah pemecahan masalah. Menurut Lewin, ada dua hal yang terkait dengan pemecahan masalah sebagai proses belajar  ( Sanjaya: 120-121) yaitu: belajar dan motivasi.

6.      TEORI HUMANISTIK
Beberapa pandangan teori humanistik tentang belajar dan pembelajaran adalah sebagaimana dirangkum berikut ini (Sudjana:60-81, Muhibbin Syah Dalam Fathurrohman dan Sutikno, 2007: 34):
1.    Siswa akan mempersepsi pengalaman belajarnya sesuai dengan kebutuhan belajarnya serta menginternalisasi pengalaman tersebut ke dalam dirinya secara aktif. Oleh sebab itu, salah satu peran guru adalah membantu tumbuhnya pengalaman-pengalaman baru yang dirasakan manfaatnya bagi kehigupan siswa dan kehidupannya.
2.    Pendekataan belajar dan pembelajaran teori humanistik adalah berpusat kepada siswa atau “leaner centered” yang diterapkan dengan menggunakan prinsip-prinsip “self determination” dan “self-directions”. Untuk itu pembelajaran dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan sendiri apa yang dipelajari sesuai dengan ketersediaan sumber-sumber belajar. Dalam konteksi ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.
3.    Perilaku adalah perwujudan diri, oleh karena itu belajar dan pembelajaran berfungsi sebagai sarana dan prasarana bagi siswa untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi manusia yang mandiri.
4.    Teori ini menekankan pentingnya peran motivasi dalam diri siswa dalam belajar. Salah satu dari tokoh yang mengembangkan teori ini yakni Abraham Moslow mengemukakan hirarki motivasi yang didasarkan pada tingkat dan jenis kebutuhan manusia yaitu : kebutuhan, fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosiologi, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Prinsip kerja alat optik

PRINSIP KERJA ALAT OPTIK
1.     MATA
Mata termasuk alat optik, karena prinsip kerjanya berdasarkan fenomena pembiasan cahaya.Kegunaan dari peralatan optik adalah untuk memperoleh penglihatan yang lebih baik, karena mata dapat dipandang sebagai alat optik maka pembahasan tentang alat optik di mulai dari mata sebagai alat optik alami.

a.      Bagian-bagian mata dan fungsinya :

            1. kornea : - Berfungsi untuk menerima cahaya serta melindungi lensa mata
            2. Iris : - Selaput di depan lensa mata yang membentuk celah,
                         - Berfungsi mengatur banyaknya cahaya, serta memberi warna
            3. pupil : - Celah/lubang lingkaran yang dibentuk oleh iris.
            4. lensa mata : - Benda bening berbentuk cembung,
                                   - Berfungsi membentuk bayangan benda yang dilihat mata.
                                   - Bayangan yang dibentuk lensa mata bersifat : nyata, terbalik,
                                     diperkecil.
            5. retina : - Berfungsi sebagai layar tempat bayangan yang dibentuk oleh lensa mata.
                           - Terdapat bintik kuning yang peka terhadap cahaya.
            6. saraf mata : - Berfungsi menyampaikan informasi ke otak.
                                  - Bayangan terbalik terlihat tegak karena adanya saraf pembalik.

            Agar dapat dilihat dengan jelas, bayangan yang dibentuk oleh lensa mata harus tepat 
berada di retina. Sifat bayangan : nyata, tegak, dan diperkecil. Jarak bayangan, yaitu jarak dari lensa mata ke retina selalu tetap, sedangkan jarak benda yang dilihat oleh mata berubah-ubah. Oleh karena itu, lensa mata memiliki kemampuan untuk mengubah ketebalannya sesuai dengan jarak benda yang dilhat.

·         Daya akomodasi mata :
            Kemampuan lensa mata untuk menebal atau menipis sesuai jarak benda yang dilihat .
·         Berakomodasi maksimum :
            Lensa mata memiliki bentuk paling tebal (paling cembung)
            Ketika melihat benda-benda dekat
·         Berakomodasi minimum / tidak berakomodasi:
            Lensa mata memiliki bentuk paling tipis.
            Ketika melihat benda-benda jauh

b.       Batas penglihatan mata
            Mata memiliki batas penglihatan paling jauh dan paling dekat yang masih dapat dilihat
            dengan jelas :
            1. titik dekat mata (punctum proximum = pp) :
               Titik paling dekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata yang berakomodasi
               maksimum (sekuat-kuatnya). Untuk mata normal, titik dekat mata memiliki jarak 
               20 – 25 cm.
            2. titik jauh mata (punctum remotum = pr) :
               Titik paling jauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata yang tidak
               berakomodasi (berakomodasi minimum).
               Untuk mata normal memiliki titik jauh tak berhingga (∞)
Untuk mata normal, titik dekat mata berjarak anatara 20 – 25 cm (jarak baca normal).
dan titi jauh mata memiliki jarak tak berhingga (∞).
1. Melihat benda jauh
- Berkas sinar dari benda yang letaknya jauh merupakan berkas sinar yang sejajar. Oleh
lensa mata dibiaskan sehingga bayangan terbentuk tepat di retina. (sinar-sinar biasnya
berpotongan tepat di retina).
2. Melihat benda dekat
- Berkas sinar dari benda dekat oleh lensa mata dibiaskan sehingga bayangan terbentuk
tepat di retina (sinar-sinar biasnya berpotongan tepat di retina)

Cacat Mata :
        Berkurangnya daya akomodasi mata seseorang dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan mata untuk melihat benda pada jarak tertentu dengan jelas. Cacat mata yang disebabkan berkurangnya daya akomodasi, antara lain rabun jauh, rabun dekat dan rabun dekat dan jauh. Selain tiga jenis itu, masih ada jenis cacat mata lain yang disebut astigmatisma.
Cacat mata dapat dibantu dengan kacamata. Kacamata hanya berfungsi membantu penderita cacat mata agar bayangan benda yang diamati tepat pada retina. Kacamata tidak dapat menyembuhkan cacat mata. Ukuran yang diberikan pada kacamata adalah kekuatan lensa yang digunakan. Kacamata berukuran -1,5, artinya kacamata itu berlensa negatif dengan kuat lensa -1,5 dioptri.Berkurangnya daya akomodasi mata dapat menyebabkan cacat mata sebagai berikut :

a.      Miopi (rabun jauh) 
- Tidak dapat melihat dengan jelas benda-benda yang letaknya jauh.
- Bayangan terbentuk di depan retina.
- Disebabkan lensa mata cenderung menebal dan sulit menjadi tipis.
- Karena kebiasaan sering melihat/ mengamati benda-benda dekat dalam waktu lama.
- Sering dialami oleh : pelajar, tukang jam, penjahit, dll.
- Titik jauh mata miopi berada pada jarak tertentu (lebih dekat dibanding mata normal)
- Untuk mengatasi mata miopi digunakan kacamata berlensa cekung (lensa negatif).
                                                                                                           
 Tugas dari lensa cekung adalah membentuk bayangan benda di depan mata pada jarak titik jauh orang yang mempunyai cacat mata miopi. Karena bayangan jatuh di depan lensa cekung, maka harga si adalah negatif. Dari persamaan lensa tipis, 1/f=1/So+1/Si si adalah jarak titik jauh mata miopi. so adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata.

b.      Hipermetropi (rabun dekat)
- Bayangan terbentuk di belakang retina
- Disebabkan lensa mata cenderung menipis dan sulit menjadi tebal.
- Karena kebiasaan melihat/ mengamati benda-benda jauh dalam waktu lama.
- Sering dialami : sopir, nahkoda, masinis, dll.
- Titik dekat mata lebih jauh dari jarak baca normal
Bayangan yang dibentuk lensa cembung harus berada pada titik dekat mata penderita rabun dekat. Karena bayangan yang dihasilkan lensa cembung berada di depan lensa maka harga si adalah negatif. Dari persamaan lensa tipis, 1/f=1/So+1/Si
si adalah jarak titik jauh mata hipermetropi. so adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata.

c.       Presbiopi (rabun tua)
- Tidak dapat melihat dengan jelas benda jauh maupun benda dekat
- Disebabkan karena daya akomodasi mata yang berkurang karena faktor usia.
- Titik dekat dan titik jauh mata mengalami perubahan dibanding mata normal
- Ditolong dengan kacamata berlensa ganda (bifocal), yaitu lensa cembung (positif) untuk melihat dekat dan lensa cekung (negatif) untuk melihat jauh.

d.      Astigmatisma (mata silindris)
            Astigmatisma disebabkan karena kornea mata tidak berbentuk sferik (irisan bola), melainkan lebih melengkung pada satu bidang dari pada bidang lainnya. Akibatnya benda yang berupa titik difokuskan sebagai garis. Mata astigmatisma juga memfokuskan sinar-sinar pada bidang vertikal lebih pendek dari sinar-sinar pada bidang horisontal.Astigmatisma ditolong/dibantu dengan kacamata silindris.

Kamera
            Kamera digunakan manusia untuk merekam kejadian penting atau kejadian yang menarik. Banyak jenis dan model kamera dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kamera yang dipakai wartawan berbeda dengan yang dipakai fotografer. Kamera video dipakai dalam pengambilan gambar untuk siaran televisi atau pembuatan film. Kamera elektronik (autofokus) lebih mudah dipakai karena tanpa pengaturan lensa. Dewasa ini sudah ada kamera digital yang data gambarnya tidak perlu melalui proses pencetakan melainkan dapat dilihat atau diolah melalui komputer.

Bagian-bagian kamera mekanik (bukan otomatis) menurut kegunaan fisis :
  • lensa cembung berfungsi untuk membentuk bayangan dari benda yang difoto
  • diafragma berfungsi untuk membuat sebuah celah/lubang yang dapat diatur luasnya
  • aperture yaitu lubang yang dibentuk diafragma untuk mengatur banyak cahaya
  • shutter pembuka/penutup “dengan cepat” jalan cahaya yang menuju ke pelat film
  • pelat film berfungsi sebagai layar penangkap/perekam bayangan.Setiap benda yang di foto, terletak pada jarak yang lebih besar dari dua kali jarak fokus di depan lensa kamera, sehingga bayangan yang jatuh pada pelat film memiliki sifat nyata, terbalik dan diperkecil. Untuk memperoleh bayangan yang tajam dari benda-benda pada jarak yang berbeda-beda, lensa cembung kamera dapat digeser ke depan atau ke belakang.
3.     Lup (kaca pembesar)
            Lup (kaca pembesar) dipakai untuk melihat benda-benda kecil agar tampak lebih besar dan jelas. Oleh tukang arloji, lup dipakai agar bagian jam yang diperbaikinya kelihatan lebih besar dan jelas. Oleh siswa saat praktikum biologi, lup dipakai untuk mengamati bagian hewan atau tumbuhan agar kelihatan besar dan jelas.
            Sebagai alat optik, lup berupa lensa cembung tebal (berfokus pendek). Sifat bayangan yang diharapkan dari benda kecil yang dilihat dengan lup adalah tegak dan diperbesar. Orang yang melihat benda dengan menggunakan lup akan mempunyai sudut penglihatan (sudut anguler) yang lebih besar daripada orang yang melihat dengan mata biasa. Ada dua cara memakai lup, yaitu dengan mata tak berakomodasi dan mata berakomodasi.
Melihat dengan mata tak berakomodasi
            Untuk melihat tanpa berakomodasi maka lup harus membentuk bayangan di jauh tak berhingga. Benda yang dilihat harus diletakkan tepat pada titik fokus lup.
Keuntunganya adalah untuk pengamatan lama mata tidak cepat lelah, sedangkan kelemahannya dari segi perbesaran berkurang. Sifat bayangan yang dihasilkan maya, tegak dan diperbesar.

Perbesaran anguler yang didapatkan adalah :
M= PP/F
Keterangan :

M = perbesaran lup

PP= titik dekat mata

f = jarak titik fokus lensa

Melihat dengan mata berakomodasi
            Agar mata dapat melihat dengan berakomodasi maksimum, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa harus berada di titik dekat mata (PP). Benda yang dilihat harus terletak antara titik fokus dan titik pusat sumbu lensa.
             Kelemahannya untuk pengamatan lama mata cepat lelah, sedangkan keuntungannya dari segi perbesaran bertambah. Sifat bayangan yang dihasilkan maya, tegak dan diperbesar.

Perbesaran anguler yang didapatkan adalah :
M= PP/F+1
Keterangan :

M = perbesaran lup

PP= titik dekat mata

f = jarak titik fokus lensa

4.     Mikroskop
            Penggunaan lup untuk mengamati benda-benda kecil ada batasnya. Jika kita menggunakan lup yang berjarak fokus kecil untuk mendapatkan perbesaran yang lebih besar, bayangan yang diperoleh tidak sempurna. Untuk itu, diperlukan mikroskop. Dengan memakai mikroskop kita dapat mengamati benda atau hewan renik, seperti bakteri dan virus yang tidak dapat dilihat mata secara langsung ataupun dengan memakai lup. Jenis mikroskop mutakhir yang sudah dibuat manusia adalah mikroskup elektron. Dalam subbab ini akan dipelajari mikroskop cahaya yang proses kerjanya memanfaatkan lensa cembung dengan menerapkan pembiasan cahaya.
            Mikroskop cahaya mempunyai bagian utama berupa dua lensa cembung. Lensa yang menghadap benda disebut lensa objektif dan yang dekat ke mata disebut lensa okuler. Jarak fokus lensa objektif lebih kecil dari jarak fokus lensa okuler. Selain itu, mikroskop dilengkapi dengan cermin cekung yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya pada objek preparat yang akan diamati. Untuk mengatur panjang mikroskop agar diperoleh bayangan dengan jelas digunakan makrometer dan mikrometer.
·         Dasar kerja mikroskop
            Obyek atau benda yang diamati harus diletakkan di antara Fob dan 2Fob, sehingga lensa obyektif membentuk bayangan nyata, terbalik dan diperbesar. Bayangan yang dibentuk lensa obyektif merupakan benda bagi lensa okuler. Lensa okuler berperan seperti lup yang dapat diatur/digeser-geser sehingga mata dapat mengamati dengan cara berakomodasi atau tidak berakomodasi.
·         Pengamatan dengan akomodasi maksimum
            Untuk pengamatan dengan akomodasi maksimum, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa okuler harus jatuh pada titik dekat mata (PP).
Perbesaran yang diperoleh adalah merupakan perbesaran oleh lensa obyektif dan lensa okuler yaitu:

M = Moby x Mok

M = (Si/So) x (PP/f okuler + 1)

·         Pengamatan dengan mata tidak berakomodasi
            Untuk pengamatan dengan mata tidak berakomodasi, maka bayangan yang dibentuk oleh lensa okuler harus berada pada titik jauh mata. Perhatikan gambar !
Perbesaran yang diperoleh adalah merupakan perbesaran oleh lensa obyektif dan lensa okuler yaitu:

M = Moby x Mok

M = (Si/So) x (PP/f okuler)

·         Panjang Mikroskop

Panjang mikroskop adalah jarak lensa obyektif terhadap lensa okuler dirumuskan:

Ø  Untuk mata berakomodasi

            d = Si (ob) + So (ok)

Keterangan :

d = panjang mikroskop

Si (ob) = jarak bayangan lensa obyektif

So (ok) = jarak benda lensa okuler

Ø  Untuk mata tidak berakomodasi

            d = Si (ob) + f (ok)

Keterangan :

d = panjang mikroskop

Si (ob) = jarak bayangan lensa obyektif

f (ok) = jarak fokus lensa okuler


5.      1. Teropong (Teleskop)
Teropong bintang disebut juga teropong astronomi.
- terdiri dari 2 buah lensa cembung.
- jarak fokus lensa obyektif lebih besar dari jarak fokus lensa okuler.
Dasar Kerja Teropong
            Obyek benda yang diamati berada di tempat yang jauh tak terhingga, berkas cahaya datang berupa sinar-sinar yang sejajar. Lensa obyektif berupa lensa cembung membentuk bayangan yang bersifat nyata, diperkecil dan terbalik berada pada titik fokus.
Bayangan yang dibentuk lensa obyektif menjadi benda bagi lensa okuler yang jatuh tepat pada titik fokus lensa okuler.

Penggunaan dengan mata tidak berkomodasi
            Untuk penggunaan dengan mata tidak berkomodasi, bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif jatuh di titik fokus lensa okuler.
Perbesaran anguler yang diperoleh adalah :
M = f (ob) / f (ok)
Panjang teropong adalah :
M = f (ob) + f (ok)

Penggunaan dengan mata berkomodasi maksimal
            Untuk penggunaan dengan mata berkomodasi maksimal bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif jatuh diantara titik pusat bidang lensa dan titik fokus lensa okuler.
Perbesaran anguler dapat diturunkan sama dengan penalaran pada pengamatan tanpa berakomodasi dan didapatkan :
M = f (ob) / So (ok)
Panjang teropong adalah :
M = f (ob) + So (ok)

5.2   Teropong Bumi

Teropong bumi disebut juga teropong medan.
Terdiri dari 3 buah lensa cembung yaitu lensa obyektif, lensa okuler dan lensa pembalik.
Dasar Kerja Teropong Bumi :
            Lensa obyektif membentuk bayangan bersifat nyata, terbalik dan diperkecil yang jatuh pada fob. Bayangan dibentuk oleh lensa obyektif menjadi benda bagi lensa pembalik jatuh pada jarak 2f pembalik sehingga terbentuk bayangan pada jarak 2f pembalik juga yang bersifat nyata, terbalik, dan sama besar .
            Dengan adanya lensa pembalik panjang teropong dirumuskan menjadi :
d = f (ob) + 4f (pembalik) + f (ok)
Lensa pembalik berfungsi untuk membalikkan arah cahaya sebelum melewati lensa okuler, lensa okuler berfungsi seperti lup membentuk bayangan bersifat maya, tegak, dan diperbesar.
Adanya lensa pembalik tidak mempengaruhi perbesaran akhir, bayangan akhir bersifat maya, tegak dan diperbesar dengan perbesaran :

M = d = f (ob) / f (ok)

          5.3  Teropong prisma (binokuler)
            Teropong prisma terdiri atas dua pasang lensa cembung (sebagai lensa objektif dan lensa okuler) dan dua pasang prisma kaca siku-siku samakaki. Sepasang prisma yang diletakkan berhadapan, berfungsi untuk membelokkan arah cahaya dan membalikkan bayangan.
Bayangan yang dibentuk lensa objektif bersifat nyata, diperkecil, dan terbalik. Bayangan nyata dari lensa objektif menjadi benda bagi lensa okuler. Sebelum dilihat dengan lensa okuler, bayangan ini dibalikkan oleh sepasang prisma siku-siku sehingga bayangan akhir dilihat maya, tegak, dan diperbesar. Perbesaran bayangan yang diperoleh dengan memakai teropong prisma sama dengan teropong bumi.Beberapa keuntungan praktis dari teropong prisma dibandingkan teropong yang lain :
1. Menghasilkan bayangan yang terang, karena berkas cahaya dipantulkan sempurna oleh bidang-bidang prisma.
2. Dapat dibuat pendek sekali, karena sinarnya bolak-balik 3 kali melalui jarak yang sama (dipantulkan 4 kali oleh dua prisma).
3. Daya stereoskopis diperbesar, dua mata melihat secara bersamaan
4. Dengan adanya prisma arah cahaya telah dibalikkan sehingg terlihat bayangan akhir bersifat maya, diperbesar dan tegak.

          5.6  Teropong pantul astronomi .
            Teropong pantul terdiri dari sebuah cermin cekung berjarak fokus besar sebagai cermin objektif, sebuah lensa cembung sebgai lensa okuler dan sebuah cermin datar sebagai pembelok arah cahaya dari cermin objektif ke lensa okuler.
          5.7 Teropong panggung
Teropong panggung terdiri dari dua lensa, yaitu :
- lensa obyektif berup lensa cembung
- lensa okuler berupa lensa cekung

Dasar kerja dari teropong panggung
            Sinar-sinar sejajar yang masuk ke lensa obyektif membentuk bayangan tepat di titik fokus lensa obyektif. Bayangan ini akan berfungsi sebagai benda maya bagi lensa okuler. Oleh lensa okuler dibentuk bayangan yang dapat dilihat oleh mata. Perlu diketahui bahwa bayangan yang dibentuk lensa okuler adalah tegak.
untuk pengamatan tanpa berakomodasi), maka panjang teropong adalah :
d = f (ob) – f (ok)
Perbesaran anguler yang didapatkan adalah sama dengan perbesaran pada teropong bintang ataupun juga teropong bumi.
M = f (ob) / f (ok)

6.     Periskop
          Sebuah kapal selam menggunakan alat optik, yaitu periskop. Periskop berguna untuk melihat keadaan di atas permukaan air. Periskop memiliki dua buah prisma yang berfungsi untuk membelokan berkas sinar dari benda yang dilihat.

7.      LENSA
Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua permukaan dan minimal salah satu permukaannya itu merupakan bidang lengkung. Lensa tidak harus terbuat dari kaca yang penting ia merupakan benda bening (tembus cahaya) sehingga memungkinkan terjadinya pembiasan cahaya. Oleh karena lensa tipis merupakan bidang lengkung. Ada dua macam kelompok lensa :
a.       Lensa Cembung (lensa positif/lensa konvergen)
Yaitu lensa yang mengumpulkan sinar.

Gambar Lensa cembung bersifat mengumpulkan sinar  di satu bidang fokus

Lensa cembung dibagi lagi menjadi tiga:

1. lensa cembung dua (bikonveks)
2. lensa cembung datar (plan konveks)
3. lensa cembung cekung (konkaf konveks)
b.      Lensa Cekung (lensa negatif/lensa devergen)
Yaitu lensa yang menyebarkan sinar .

Gambar Lensa cekung bersifat menyebarkan sinar dari arah bidang fokus

Lensa cekung dibagi lagi menjadi tiga:

1. lensa cekung dua (bikonkaf)
2. lensa cekung datar (plan konkaf)
3. lensa cekung cekung (koveks konkaf)

Untuk memudahkan pembuatan diagram lensa digambar dengan garis lurus dan tanda di atasnya, untuk lensa cembung di tulis (+) dan lensa cekung (–). Untuk lensa memiliki dua titik fokus.

1. Berkas Sinar Istimewa pada Lensa Tipis
Seperti pada cermin lengkung, pada lensa dikenal pula berkas-berkas sinar istimewa.
a. Berkas sinar-sinar istimewa pada lensa cembung.        
Ada tiga macam sinar istimewa pada lensa cembung.

(1). Sinar datang sejajar sumbu utama lensa, dibiaskan melalui titik fokus.
(2). Sinar datang melalui titik fokus lensa, dibiaskan sejajar sumbu utama.
(3). Sinar datang melalui titik pusat lensa tidak dibiaskan melainkan diteruskan.

b. Berkas sinar-sinar istimewa pada lensa cekung.           
Ada tiga macam sinar istimewa pada lensa cekung.



(1). Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan seolah-olah berasal dari titik fokus.
(2). Sinar datang seolah-olah menuju titik fokus lensa dibiaskan sejajar sumbu utama.
(3). Sinar datang melalui titik pusat lensa tidak dibiaskan melainkan diteruskan.
2. Penomoran ruang pada Lensa Tipis
Untuk lensa nomor ruang untuk benda dan nomor-ruang untuk bayangan dibedakan. nomor ruang untuk benda menggunakan angka Romawi (I, II, III, dan IV), sedangkan untuk ruang bayangan menggunakan angka Arab (1, 2, 3 dan 4) seperti pada gambar berikut ini:
Untuk ruang benda berlaku :
 ruang I antara titik pusat optic (O) dan F2,
ruang II antara F2 dan 2F2 
ruang III di sebelah kiri 2F2,
 ruang IV benda (untuk benda maya) ada di belakang lensa. 
Untuk ruang bayangan berlaku :
ruang 1 antara titik pusat optic (O) dan F1,
ruang 2 antara F1 dan 2F1 
ruang 3 di sebelah kanan 2F1,
ruang 4 (untuk bayangan maya) ada di depan lensa.
Berlaku pula :  R benda + R bayangan = 5

3. Melukis pembentukan bayangan pada lensa
Untuk melukis pembentukan bayangan pada lensa tipis cukup menggunakan minimal dua berkas sinar istimewa untuk mendapatkan titik bayangan.
Contoh melukis pembentukan bayangan.
  • Benda AB berada  di ruang II  lensa cembung

Sifat-sifat bayangan yang terbentuk:
Nyata, terbalik, diperbesar
  • Benda AB berada  di ruang III  lensa cembung

Sifat-sifat bayangan yang terbentuk:
Nyata, terbalik, diperkecil
  • Benda AB berada  di ruang I lensa cembung

Sifat-sifat bayangan yang terbentuk:
maya, tegak, diperbesar
  • Benda AB berada  di ruang II lensa cekung

Sifat-sifat bayangan yang terbentuk:
Maya, tegak, diperkecil



8.